Kamis, 17 September 2015

Riazanov

LENIN wafat pada 1924. Tampuk pimpinan Republik Sosialis Uni Soviet digantikan Stalin. Satu per satu lembaga yang didirikan sepanjang kekuasaan Lenin diperiksanya. Pada tahun 1927, Stalin sempat berkunjung ke kantor Lembaga Marx-Engels yang didirikan pada 1921. Di ruang direktur, Stalin melihat panjangan potret-potretnya Marx, Engels, dan Lenin. Sambil berkernyit Stalin lantas bertanya pada si direktur yang kebetulan ada di situ: “Di mana potretku?” Si direktur membalas: “Marx dan Engels itu guru-guruku. Lenin itu kawanku. Siapa Anda buat saya?” Buat orang kebanyakan kala itu jelas ini sebuah pertanyaan balik yang kurang ajar dan bisa menghantar penanyanya ke regu penembak.

Si direktur yang kurang ajar itu adalah Riazanov. Seperti halnya Lenin, Stalin, atau Trotsky, Riazanov bukanlah nama asli. Memang sejak sebelum Revolusi 1917, penggunaan nama palsu merupakan kebiasaan di antara para aktivis. Nama asli Riazanov ialah David Borisovich Gol’dendakh. Dialah yang mendirikan Lembaga Marx-Engels dan memulai proyek besar penerbitan Kumpulan Karya Marx-Engels (Marx-Engels Gesamtausgabe/MEGA). Jalan hidupnya penuh dengan ketegangan. Sejak belasan tahun, Riazanov aktif dalam politik revolusioner sebagai anggota serikat buruh. Sebelum Revolusi 1917, ia berulang kali jadi tahanan politik di Rusia dan orang buangan di beberapa negara di Eropa Barat. Pernah ikut dalam Kongres Internasional Kedua yang mempertemukannya dengan para pimpinan partai sosial demokrasi Eropa Barat. Riazanov dikenal lugas bicaranya dan teguh pendirian orangnya. Orang mengenalnya sebagai sejenis manusia yang tak bisa basa-basi dan disiplin hidupnya. Teman satu selnya pernah bilang kalau di penjara Riazanov membawa tiga hal: olahraga rutin tiap pagi, larangan ketat merokok, dan menetapkan jam-jam belajar yang selama itu tak boleh ada seorang pun ribut. Ketiga aturan itu dituruti oleh rekan-rekan sesama tahanan politik. Di bui, Riazanov juga menghabiskan waktunya dengan menerjemahkan karyanya David Ricardo dan memberikan kuliah-kuliah tentang Marx.

Setelah Revolusi 1917, Riazanov yang pernah terpilih sebagai presidium Kongres Kedua Soviet-Soviet, aktif di kementerian pendidikan. Cita-citanya untuk mengumpulkan dan menerbitkan semua tulisan Marx-Engels diwujudkan dalam rupa pendirian Lembaga Marx-Engels. Dia mempekerjakan para sarjana dari berbagai bidang ilmu dan lintas bangsa, tak peduli latar belakang politiknya. Meski kritis terhadapnya, Lenin tetap menganggapnya sebagai tokoh Marxis mumpuni. Karena jasa-jasanya sebelum dan selama Revolusi, Riazanov juga pernah mendapatkan Bintang Lenin pada 1927. Pada 1931 dia dituduh sebagai bagian dari komplotan Mensheviks yang hendak melakukan makar oleh Stalin. Jabatannya di Lembaga Marx-Engels dicopot. Sempat dihukum pengasingan ke pelosok tanpa pengadilan selama tiga tahun, lalu bebas hingga 1938 ketika dia dinyatakan bersalah oleh mahkamah militer dan dihukum tembak. Bertahun-tahun setelahnya, Leon Tortsky mengenangnya sebagai orang yang secara organik tak pernah bisa menjadi pengecut dan tukang basa-basi.

Buat kita di Indonesia, mungkin nama Riazanov tak punya arti apa-apa. Dia tidak semasyhur Lenin, Kautsky, Luxemburg, atau Bernstein yang punya banyak karya dan pengikut. Dia bukan sejenis rasul pembawa tafsir kebenaran Marxisme. Tak pernah dia menulis buku seterkenal Negara dan Revolusi atau Akumulasi Kapital atau Sosialisme Evolusioner. Tak pernah sungkan berdebat dengan siapa pun. Sebagai kawan dekat Lenin dia tak pernah tak mengkritiknya bila dianggapnya keliru. Sebagai anggota Partai Bolsheviks (yang kemudian menjadi Partai Komunis), dia tak pernah menjauhi dan sering membela orang-orang Mensheviks. Sebagai Marxis, dia tak pernah menyepelekan kerjanya orang-orang Partai Sosial Revolusioner yang populis. Baginya, partai-partai revolusioner bukan sekadar kawan sekubu seperjuangan yang boleh habis manis sepah dibuang, tapi saudara kandung Revolusi yang tak boleh diberangus hanya karena perbedaan pandangan. Musuh terlalu besar untuk dilawan sendirian. Perdebatan dan perbedaan pendapat di antara Marxis baginya ialah sumbu yang melaluinya bahan bakar menjadi api pencerahan. Buatnya perbedaan pendapat adalah rahmat karena Marxisme bukan agama yang tidak begitu saja selesai ketika Lenin atau siapapun bicara mengatasnamakannya. Caranya mengatasi perbedaan di antara kawan-kawan disalurkan lewat upayanya menerbitkan berbagai karya, termasuk naskah-naskah tulisan tangan Marx-Engels ke khalayak banyak.

Ketika membaca salah satu penggal riwayat Riazanov, saya teringat pada proyek Martin seperti yang ditulisnya di kolom Logika soal ‘menemukan kembali Marxisme kita’. Seperti halnya Riazanov di Rusia, Martin bilang kalau bicara soal Marxisme di Indonesia itu susah. Seperti halnya Martin, menurutnya ada semacam “keruwetan pemahaman soal Marxisme” yang berakar pada “prasangka, baik itu prasangka revolusioner maupun konservatif”. Seperti juga Martin, Riazanov melihat prasangka-prasangka ini “berpangkal pada rendahnya produksi pengetahuan Marxis”. Saking rendahnya, berbagai kelompok yang mendaku diri Marxis mengutip penggalan-penggalan pernyataan Marx-Engels yang itu-itu saja dalam menuduh pihak lain atau membenarkan klaim mereka sendiri. Untuk mengatasi perang kutipan yang tidak produktif jalan keluar satu-satunya ialah “proyek ‘penemuan kembali Marxisme’ mesti segera dimulai”. Dan bagaimanakah proyek menemukan kembali Marxisme itu?

Menurut Martin persoalan ini mesti dimulai dengan meninggalkan kajian teoritis atas Marxis yang “sampai hari ini dibangun melalui model eksegesis: pembacaan atas teks-teks Marx dan penerusnya”. Kalau kita masih di tingkat ini, Marxis tidak akan beranjak jauh dari jalan yang dijejak para juru tafsir Alkitab yang membaca “teks-teks sakral lalu mempelajari tradisi komentar terhadap teks-teks itu”. Jalan ini, menurutnya, ditambah sejumput model agitasi politik a la Perang Dingin, ujung-ujungnya menghantar pada penciptaan Marxisme sebagai sejenis sekte. Satu-satunya yang sah dalam sekte ialah seberapa cocok pernyataan kita dengan sumber-sumber suci. Buat sekte kebenaran sudah baku ada di tangan mereka. Yang lain sudah pasti keliru. Meski tak menampik faedah model eksegesis sebagai pengantar, namun Martin yakin dengan cara ini saja “tradisi teoritis Marxisme sulit terwujud”. Lantas apa yang harus dilakukan? Tak ada cara lain, “kajian teoritis atas Marxisme mensyaratkan rekonstruksi filsafat dalam mendedahkan struktur logis, ontologis, dan epistemologis dari totalitas kenyataan itu sendiri”. Di sinilah mungkin bedanya Martin dengan Riazanov.

Sebagai orang yang ditempa di dalam bidang filsafat, dengan akses yang lebar baik secara teknis maupun pikiran terhadap teks-teks Marxis, selain efek sampingnya yang berbahaya, tentu model eksegesis terlalu sederhana buat Martin. Selain itu Martin mengandaikan semua orang memiliki akses yang sama lebarnya secara teknis maupun pikiran terhadap teks-teks Marxis. Jangankan menjalankan rekonstruksi filsafat, boleh dikata tidak banyak orang yang siap bahkan untuk sekadar melakukan kajian bermodel eksegesis. Di antara generasi Twittter 140 karakter, jangankan Das Kapital 900 halaman, membaca esai 2000 kata saja membosankan. Selain itu, seperti dibilang Martin sendiri, teks-teks Marxis yang ada di sini umumnya ialah hasil terjemahan yang “brutal” kualitasnya. Artinya, tafsir saja sulit dikerjakan dengan baik dengan bahan baku macam begini.

Sebetulnya kondisi yang kita alami sekarang mirip dengan kondisi Rusia di masa Riazanov. Saat itu, tak banyak teks-teks Marx-Engels yang bisa dijadikan bahan baku kajian. Hanya teks-teks yang sudah pernah terbit saja yang tersedia. Itu pun hanya para elite terdidik yang bisa membacanya. Di tengah-tengah iklim serba buru-buru karena agitasi politik Revolusi, teks-teks yang tersedia tak ubahnya Alkitab. Perdebatan tak jauh jatuhnya di soal apa maksud Marx di teks ini atau itu. Kutip-mengutip jadi satu-satunya senjata. Dengan bekal kutipan, saling daku dan saling tuduh menjadi sengit. Seperti skisma gereja, berbagai kelompok Marxis tak ubahnya seperti sekte. Tak ada kebenaran di luar kelompok mereka. Inilah Marxisme yang benar. Inilah jalan lurus menuju cita-cita sosialisme adiluhung. Kami juga punya kutipan-kutipannya lho dari Marx.

Riazanov melihat “sektarianisme baru” menjadi gambaran umum situasi. Karena itu, pasca Revolusi 1917, alih-alih bergiat di agitasi politik yang sudah bersimbah sektarianisme, aktivis serikat buruh sejak usia belasan, anggota presidium soviet-soviet se-Rusia itu, memilih membaktikan hidupnya mengumpulkan, menyunting, dan menerbitkan teks-teks Marx-Engels yang belum pernah diterbitkan sebelumnya. Termasuk teks yang dari kacamata agitasi politik tak punya relevansi seperti Naskah-Naskah Paris 1844 yang kemayu ataupun Naskah-Naskah Matematika yang teknis.

Ada benarnya kata Martin bahwa di bawah kajian Marxisme bermodel eksegesis bergelayut efek samping seberbahaya sektarianisme dengan serba prasangka revolusionernya. Apalagi dikompori oleh agitasi politik identitas a la sekte dengan asas ‘yang penting pelaksanaannya bung!’-nya. Tapi beranjak langsung ke kajian bermodel ‘rekonstruksi filsafat’ juga bukan sesuatu yang semudah menemukan pasir di pantai. Yang perlu dilakukan bukan memilih ini atau itu. Yang perlu mungkin ialah mengorganisasi jalan-jalan yang sampai saat bisa kita tempuh. Agitasi teoritis dan produksi pengetahuan berbasis rekonstruksi filsafati tentu perlu dalam konteks menumbuhkan iklim kajian serius sekaligus menemukan kembali Marxis untuk jaman kita. Tapi alangkah baiknya bila itu diiringi juga oleh produksi penerjemahan teks-teks Marx-Engels berkualitas tidak “brutal” dan yang terjangkau oleh banyak orang.

Di tengah mulai merebaknya kecenderungan menjadikan Marxisme sebagai sekte, mungkin kini saat yang tepat untuk sebagian dari kita menjadi Riazanov, yang meski tak menghasilkan karya tapi teguh dan tekun membuka jalan ke arah itu sambil bilang: “saya bukan Bolshevik, bukan Mensheviks, bukan pula Leninis, tapi saya Marxis dan karenanya komunis”.***

Jatinangor, 31 Agustus 2015

Sumber: Indoprogress

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...