Kamis, 10 September 2015

Perang Bubat dalam Memori Orang Sunda

Benarkah ini jadi penyebab tak ada jalan Majapahit dan jalan Gadjah Mada di Bandung?

KENDATI masyarakat Sunda tak bisa menghapus ingatan akan Peristiwa Bubat, tak ada karya sastra Sunda yang merekam peristiwa tragis itu. Baru pada abad ke-16 muncul Carita Parahiyangan, salah satu naskah Sunda kuna yang unicum. Teks ini pun hanya memberi sepenggal informasi.

“Bisa dipahami kenapa Carita Parahiyangan tidak menyebutkan secara rinci tragedi di Bubat. Bagi masyarakat Sunda Kuna perang Bubat pastinya merupakan peristiwa yang menyedihkan,” ujar Agus Aris Munandar. Dalam teks, putri Sunda disebut sebagai Tohaan atau yang dihormati.

Lalu, pada abad ke-20, CC Berg, sejarawan Belanda, menerbitkan teks dan terjemahan Kidung Sunda (1927) yang mengurai Peristiwa Bubat dan versi yang lebih pendek Kidung Sundayana (1928). Dalam Penulisan Sejarah Jawa, Berg menyebut Kidung Sunda mengandung fakta-fakta sejarah karena kejadian itu diperkuat tulisan Sunda kuna, Cerita Parahyangan. Berg pun menyimpulkan, “dalam Kidung Sunda kita harus melihat endapan sastra dari cerita-cerita rakyat yang turun-temurun dan dalam fragmen Pararaton yang bertema sama itu...”

Berbeda dari Pararaton, teks-teks Sunda menyajikan sudut pandang berbeda dan menampilkan deskripsi yang lebih dramatis dan sentimentil mengenai Peristiwa Bubat. Ia menyebut bahwa putri Prabu Maharaja ingin menikah dengan orang penting, bukan orang Sunda. Karenanya, “orang-orang pergi ke Jawa” dan mengakibatkan pertempuran di Majapahit. Ia juga menyalahkan Gajah Mada sebagai biang keladi peristiwa itu dan akibatnya Gajah Mada dibenci keluarga istana Majapahit. Sementara Hayam Wuruk yang digambarkan bersedih hati kehilangan kekasihnya tak lama kemudian menyusul ke alam baka.

Kenapa ada deskripsi berbeda dari sebuah peristiwa sejarah yang sama? Wim Van Zanten menyoroti hubungan antara orang Sunda dan Jawa. Menurutnya, kala itu orang Sunda berada dalam posisi minoritas. “Mereka mengagumi budaya Jawa dan mengadopsi beberapa aspek budaya Jawa... Pada saat bersamaan, orang Sunda selalu berusaha, dengan beberapa ukuran keberhasilan, untuk tetap independen dari Jawa,” tulis Wim Van Zanten dalam “The Poetry of Tembang Sunda”, dimuat Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 140, 2de/3de Afl. (1984).

Contoh menarik bisa dilihat pada perjalanan penyair kelana dari Pakwan, Bujangga Manik, ke Jawa, termasuk wilayah Majapahit, sekira akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16. “Kisah Bujangga Manik menunjukkan bahwa budaya Jawa dan lembaga Jawa dianggap orang Sunda sebagai sumber utama pendidikan mereka yang lebih tinggi di bidang agama, dan pergi ke timur adalah hal yang wajar untuk dilakukan untuk seorang pemuda Sunda yang ingin memperoleh pengetahuan dan pembelajaran,” tulis J. Noorduyn dalam “Bujangga Manik’s Journeys through Java: Topographical Data from An Old Sundanese Source”, dimuat Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 138, 4de Afl. (1982). “Perjalanan Bujangga Manik mewakili masa pembelajarannya. Dia pulang setelah pembelajarannya selesai.”

Namun, sama seperti Pararaton, sejumlah ahli meragukan teks-teks Sunda tersebut. Aminuddin Kusdi, sejarawan Universitas Negeri Surabaya, dalam “Aspek-Aspek Historis Pa Sunda (Perang Bubat 1357)” menyebut bahwa sebagai sumber sejarah, Kidung Sunda, merupakan sumber sekunder, bahkan tersier. Berbagai fakta sejarah di dalamnya tidak sesuai dengan sumber-sumber lain yang lebih kredibel seperti prasasti. Perlu diperhatikan pula bahwa pada abad ke-19, kurun waktu penulisan Kidung Sunda, merupakan masa munculnya beberapa karya sastra kontroversial.

Edi Sedyawati bahkan menyoroti peran pemerintah kolonial dalam memperkenalkan Peristiwa Bubat kepada khalayak. “Oleh pemerintah Belanda, Kidung Sunda dijadikan bahan ajar bagi siswa di Algemeene Middelbare School (AMS). Mengapa tidak menggunakan karya sastra yang lebih dikenal seperti Ramayana dan Bharatayudha. Ada kepentingan Belanda di dalamnya,” ujar Edi Sedyawati, mengaitkan terbitnya teks-teks Sunda tersebut yang dekat dengan peristiwa Sumpah Pemuda.

Maka, setelah ibukota kerajaan Majapahit, Pasunda-Bubat menjadi misteri berikutnya yang butuh dipecahkan. Karena peristiwa itu kadung tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat.*

Sumber: Historia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...