Kamis, 31 Desember 2015

Berpulang dengan Kemenangan

Kaget. Tak ada yang menyangka jalan kematian begitu lekas menemui Wijaya Herlambang. Semua yang mengenal Bang Jay, sapaan akrabnya, tentu tahu kalau ia menderita penyakit kanker. Kanker pankreas. Namun semua kita juga tahu, kalau kondisi Bang Jay mulai membaik malah sudah banyak beraktivitas lagi.

Kehadirannya pada International People’s Tribunal 1965 di Belanda beberapa waktu lalu, membuat kami yakin kalau Bang Jay mulai membaik. Tapi sialnya, kami tidak sadar kalau Bang Jay ini seorang yang militan. Kami, meski teman-teman yang lain tidak lupa memintanya beristirahat, lupa kalau Bang Jay begitu menaruh perhatian pada peristiwa ini.

Maka setelah menjadi saksi pada sidang rakyat tersebut, Bang Jay masih memforsir diri untuk hadir dari diskusi ke diskusi. Terakhir, ia baru menghadiri sebuah acara bedah buku di Jakarta pada hari minggu lalu. Rencananya, Bang Jay memang hendak pulang ke semarang untuk melanjutkan terapi kemo yang rutin ia laksanakan. Tapi ternyata, rencana manusia tidak ada apa-apanya ketimbang rencana Tuhan.

Dalam perjalanan pulang, diketahui kalau Bang Jay tiba-tiba muntah darah di Cirebon. Lantas, langsunglah Ia dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan. Belum lama di sana, ia mengalami koma, dan sejam kemudian ia telah berpulang ke haribaan yang kuasa.

Saya bukan orang yang mengenal baik Wijaya Herlambang, hanya seorang pembaca bukunya dan mahasiswa yang (juga) mendalami isu terkait kasus 1965. Pertemuan pertama kami terjadi di kampus saya, ketika itu teman-teman beserta penerbit Marjin Kiri mengadakan diskusi mengenai bukunya di kampus UIN.

Saat itu saya sudah membaca bukunya, dan memang, bukunya sangat luar biasa. Dalam bukunya, Kekerasan Budaya Pasca 1965, Bang Jay menampilkan analisis serta data terntang bagaimana kekuasaan orde baru melegitimasi kekerasan melalui jalan kebudayaan. Melalui film dan buku-buku yang ‘direkayasa’ oleh orba beserta intelektual dan budayawannya, kekuasaan saat itu mampu melakukan indoktrinasi terhadap masyarakat serta anak sekolah tentang PKI dalam versi mereka.

Dalam buku ini juga, ia memaparkan bagaimana kepentingan Amerika Serikat yang pasca Perang Dunia untuk memberantas komunisme sebagai lawan politik sekaligus ideologi mereka. Amerika Serikat, melalui seorang agen kebudayaan bernama Ivan Kats ”menggarap” sejumlah aktivis Indonesia. Tujuannya adalah supaya para pemikir, aktivis, dan seniman itu membantu menyebarkan gagasan-gagasan yang mendukung kapitalisme sekaligus mendiskreditkan setiap pemikiran yang berciri kerakyatan, bercorak kekirian.

Buku yang bagus dan berani, mencoba membongkar sesat pikir yang selama ini ada. Tentu penulisnya adalah orang yang keren, begitu pikir saya kala itu. Tapi di luar semua intelektualitas dan pendiriannya terkait isu ini, ia adalah orang yang begitu bersahaja.

Karenanya, ketika dikabari oleh Robby Kurniawan, salah satu editor Marjin Kiri, kalau Bang Jay mengidap kanker, saya jelas kaget. Bang Jay, dalam ingatan saya, adalah orang dengan energi hidup yang luar biasa. Ia bisa ada dalam beberapa kota dalam satu minggu, dan ia akan hadir dalam diskusi yang anda adakan selama itu tidak mengganggu jadwal diskusi lainnya.

Selang waktu kemudian, Bang Jay memang banyak beristirahat, memulihkan kondisi serta melakukan pengobatan terhadap penyakitnya. Saya sendiri menyaksikan bagaimana teman-teman Bang jay bahu-membahu membantu untuk berjuang melawan penyakitnya. Sungguh perkawanan yang indah.

Mungkin karena inilah, Bang Jay tidak mau menyiakan waktu yang dipunya untuk kembali aktif menyampaikan gagasan dan apa yang ia ketahui tentang sastra juga peristiwa 1965. Meski kelelahan, ia tidak berhenti dan memilih istirahat ketika diminta mengisi sesi dalam acara Seminar Politik Kritik Sastra Indonesia di UGM pekan lalu. Pun, ia tidak memilih langsung pulang karena masih ada diskusi di Jakarta.

Sekalipun Bang Jay tidak mau mengeluh sakit, tentu orang-orang disekitarnya tahu kalau ia kesakitan. Tapi, daya juangnya terlalu tinggi untuk merobohkan Bang Jay. Hingga dalam kondisi badan yang amat lelah, ia dipaksa menyerah oleh takdir dan kuasa Tuhan. Ia berpulang dengan kemenangan yang diraihnya, kemenangan karena mampu menyebarkan keberanian pada anak muda untuk melawan sesat pikir yang diberikan orde baru.

Sumber: Mahasiswa Bicara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...