Selasa, 16 Juni 2015

Pak Dul: Miskin Harta Kaya Jiwa

ABDUL Syukur alias Pak Dul sontak menjadi buah bibir banyak pihak sejak foto dan profilnya diunggah Hilman Utomo di media sosial Facebook, ditulis dalam rubrik “Sosok” Harian Kompas 17 Mei 2015, ditayangkan stasiun televisi TV One 27 Mei 2015, serta diangkat dan diulas Mochtar Pabottingi dalam artikel di Harian Kompas 4 Juni 2015.

Tentu tidaklah berlebihan jika para pihak mengangkat Pak Dul dengan berbagai predikat. Kompas menyebut sosoknya sebagai day to day hero (pahlawan sehari-hari). TV One memberi julukan “Perkasa di Usia Senja” dan Mochtar Pabottingi menempatkannya sebagai orang-orang kredo. Setidaknya ada tiga hal unik dan luar biasa dari figur Pak Dul.

Di tengah-tengah kesulitan mencari nafkah sebagai penarik becak untuk menghidupi keluarga, Pak Dul rela meluangkan waktunya di malam hari untuk “menambal” beberapa jalan berlubang di Kota Surabaya dengan bongkahan aspal. Ironisnya, banyak orang yang hidup berkecukupan dan hampir tidak pernah mengalami kesulitan materi cenderung abai dan menutup mata dengan berbagai persoalan sosial disekitar mereka.

Pak Dul menambal jalan-jalan berlubang tanpa pamrih dan semata bertujuan mencegah orang lain terkena celaka ketika melewati jalan yang rusak. Bahkan, dia menolak tawaran Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebagai mandor kerja di Dinas Pekerjaan Umum. Pak Dul menyatakan ingin tetap berprofesi sebagai penarik becak. Hal itu berbanding terbalik dengan fenomena relawan dewasa ini; membantu orang atau pihak tertentu dengan mengharapkan imbalan dan jabatan.

Sekalipun sudah memasuki usia senja, jiwa kerelawanan Pak Dul tak pernah surut. Hampir 10 tahun beliau melakoni kerja menambal jalan berlubang dengan bongkahan aspal serta berbagai bentuk kegiatan perbaikan kebersihan saluran air di lingkungannya. Hal tersebut kontradiktif dengan situasi saat ini. Banyak warga masyarakat justru berpangku tangan ketimbang turun membenahi situasi lingkungan yang kurang nyaman.

Pada umumnya terdapat salah paham dalam melihat dan mengartikan kerelawanan yang dilakukan seseorang,seperti pada sosok Pak Dul. Seolah-olah kerelawanan adalah suatu kegiatan bersifat senang-senang atau bahkan kegiatan yang dilakukan oleh warga pengangguran. Sebaliknya, kerelawanan membutuhkan proses panjang, menuntut motivasi tinggi, kesediaan untuk berkorban dan meninggalkan kenyamanan yang selama ini dinikmati.

Jiwa kerelawanan memang telah merebak di seluruh dunia, terutama di negara-negara maju. Prinsip dasarnya adalah tolong-menolong sebagai semangat yang memotivasi seseorang untuk menjadi relawan. Di Amerika Serikat, misalnya, kegiatan relawan melibatkan lebih dari 61,8 juta orang dan mencurahkan alokasi kerja sekitar 8 miliar jam setiap tahun, termasuk nilai ekonomi kerelawanan yang mencapai US$ 162 miliar. Itu sama dengan tingkat pendapatan kotor negara Mesir (Oxfam, 2000)

Sekalipun penting dan memberi dampak positif bagi kehidupan masyarakat, kegiatan dan perkembangan kerelawanan di negara berkembang pada umumnya (termasuk Indonesia) belum cukup berkembang. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi kurang berkembangnya kehidupan kerelawanan di Indonesia.

Pertama, dukungan pemerintah dalam menciptakan dan menumbuhkan lingkungan yang kondusif. Perhatian pemerintah yang maksimal adalah memberi penghargaan. Pemerintah agaknya kurang memberi insentif dan program yang lebih baik bagi individu dan organisasi untuk turut membudayakan gerakan kerelawanan.

Kedua, kurangnya pemahaman yang lengkap dan benar tentang kerelawanan. Seolah-olah seseorang baru bisa menjadi relawan setelah memiliki kekayaan berlimpah dan waktu luang cukup banyak. Padahal, menjadi relawan dapat dijalani setiap saat tanpa harus menggunakan uang atau mencari waktu luang.

Ketiga, terbatasnya organisasi, event, dan promosi yang bertujuan menyemaikan dan membudayakan gerakan kerelawanan. Karena itu, kegiatan kerelawanan kerap sangat terbatas dari sisi jumlah orang, bentuk kegiatan, dan keberlanjutan.

Walaupun demikian, kegiatan kerelawanan tak pernah berhenti. Setiap saat akan tumbuh secara alami orang yang bersedia meluangkan waktu dan mencurahkan tenaga bekerja atau membantu orang lain tanpa pamrih. Sayangnya, sekalipun telah berjalan sekian puluh tahun dengan kucuran dana miliaran rupiah, nyaris tak terdengar lahirnya sosok relawan fenomenal, seperti Pak Dul, yang dibangun pemerintah lewat ajang pelatihan dan bimbingan. Relawan seperti Pak Dul mungkin seperti “manusia setengah dewa” yang kehadirannya memang sangat langka dan sulit diperoleh dari pelatihan. ***

Sumber: Prisma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...