Selasa, 16 Februari 2016

Valentine Petani: Kasih Sayang Kedaulatan Pangan

VALENTINE DAY, jika diartikan hari kasih sayang, dalam kosakata Arab, ada padanannya yakni, yaumul marhamah. Adapun makna hari kasih sayang Islam disebut Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) sebagai “Islamic Valentine Day”.

Merujuk histori Fathu Makkah, dikatakan Cak Nun, Fathu Makkah, yang di dalam Al Qur’an disebut sebagai Fathan Mubina, kemenangan yang nyata, terjadi pada Bulan Ramadhan, tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah merebut kembali kota Makkah. Diizinkan Allah memperoleh kemenangan besar. Ribuan tawanan musuh diberi amnesti massal….

Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang: “…hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqa….”. Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing. Pasukan Islam mendengar pidato itu merasa shock juga. Berjuang hidup mati, diperhinakan, dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman: malah musuh dibebaskan. Itu pun belum cukup. Rasulullah memerintahkan pampasan perang, berbagai harta benda dan ribuan onta, dibagikan kepada para tawanan.

Sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Sehingga mengeluh dan memproteslah sebagian pasukan Islam kepada Rasulullah. Mereka dikumpulkan dan Muhammad SAW bertanya: “Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?” Mereka menjawab: sekian tahun, sekian tahun…. “Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”

Tentu saja sangat mencintai. Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: “Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?” Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan bumi dan langit. Tentu saja, andai kita berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, kelihatannya kita menjawab agak berbeda: “Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah, tapi kalau boleh mbok ya juga diberi onta dan emas barang segram dua gram…?”

Watak kasih sayang yang diproklamirkan Rasulullah itu sejatinya sangat universal. Kasih sayang yang diajarkan rasulullah sarat dengan nilai-nilai subtantif mengenai bagaimana seharusnya dan bagaimana semestinya kita memiliki semesta cakrala pandang, sikap dan berprilaku yang luas melampau sekat-sekat primordial maupun sifat-sifat sempit materi.

Demikian halnya, manusia dan alam, petani dan sawah ladang adalah pernikahan yang diharapkan anak-pinaknya, kedaulatan pangan. Akibat perkawinan itulah, peradaban terbangun. Kemerdekaan sebagai manusia yang tidak terjajah kelaparan, mampu meningkatkan derajat kemanusiaannya untuk lebih banyak waktu mengembangkan pikiran, memajukan daya dari kelestarian manusia berdaulat itu sendiri.

Bahwa kemudian, tidak ada manusia yang tak mencintai alam, tidak ada petani yang memunggungi sawah dan ladang. Persoalannya adalah, kedaulatan kita sendiri sering jatuh pada pelbagai sikap wadak. Kita kemudian menemukan, petani mengambil untung 10 persen dari keringat dan hasilnya bercocok tanam, tengkulak bisa mengambil keuntungan 300 persen.

Keterpurukan petani sudah diketahui secara luas, dari petani itu sendiri sampai ke tingkat pejabat penentu kebijakan. Sayangnya, ini tidak berkembang menjadi kekuatan untuk melakukan perubahan. Modernisasi teknologi pertanian selain meningkatkan produksi, ternyata juga menghilangkan kemandirian petani.

Kreativitas dan keahlian petani dalam budi daya, seperti menyiapkan benih sendiri dan membuat pupuk atau pestisida, memudar seiring makin konsumtif serta bergantungnya mereka pada asupan buatan pabrik. Petani kini terbiasa mengonsumsi berbagai asupan luar, mulai benih, pupuk serta racun pembunuh hama untuk usaha tani mereka sendiri.

Ongkos produksi menjadi mahal dan pertanian tidak lagi mampu menjamin kualitas penghidupan petani. Sementara begitu banyak pengorbanan petani, pemerintah dengan mudah menerima berbagai kebijakan lembaga ekonomi internasional yang memperlancar kepentingan ekonomi global. Padahal ini berakibat pada makin terpuruknya petani.

Semua itu, banyak disebut rantai distribusi yang sangat panjang sehingga tidak berbanding lurus dengan kasih sayang petani. Keuntungannya, lebih berpihak pada distributor. Termasuk tentu saja, pupuk bersubsidi yang selalu menjadi keluhan namun tak pernah terselesaikan. Bisa kita bayangkan, betapa tabah dan luar biasanya ketulusan cinta yang dimiliki para petani kita.

Mengulas masalah pertanian, “tani” sebagai profesi sekaligus pekerjaan orang-orang di perdesaan, tidak pernah akan kehabisan ide dan gagasan. Dan tidak pernah ada habisnya. Sebab, pertanian adalah urat nadi kehidupan yang terus tumbuh dan berkembang, terdesak dan dikenang. Jika tak boleh disebut, terasing dari kultur anak muda yang sudah terkesan sok modern.

Pada edisi beberapa bulan lalu, Maiyah Dusun Ambengan di Rumah Hati pernah membincang tema Tanam Kebajikan Panen Kemuliaan. Namun demikian, perbincangan seputar pertanian selalu mendesak untuk terus dikajiurai, dikonkritkan dalam aksi-aksi yang lebih kontekstual, sesuai kebutuhan masyarakat desa yang menjadi jamaah Ambengan.

Beberapa anak muda yang menjadi jamaah Ambengan, mengusulkan tema Valentine Day. Alasannya, tentu sebatas kalender di mana waktunya jatuh pada malam 14 Februari 2016.

Menjelang 14 Februari, sudah kita temukan tema-tema Valentine Day mengepung kita. Semua interior pusat perbelanjaan, termasuk semua waralaba di dusun-dusun kami, mengemas aneka cinderamata dengan dominasi warna pink dan biru muda.

Hari Valentine penting didiskusikan sebab ternyata kegaduhannya bukan hanya menjadi trend anak-anak muda di perkotaan. Di pelosok-pelosok kampung pun, anak-anak muda kita sangat familiar dengan perayaan Valentine. Anak-anak petani yang banyak mulai tak kenal lumpur sawah dan kerasnya mengolah ladang.

Maiyah Dusun Ambengan tidak dalam kapasitas mencari jejak sejarah dari mana hari kasih sayang itu dimulai atau membuat pengadilan bagaimana bertani yang baik. Namun, mengambil subaltern dari sisi terdalam suka cita perayaan kasih sayang itu sendiri. Sehingga diharapkan, anak-anak muda yang ingin merayakan kasih sayang, cukup duduk melingkar dalam majelis. Para petani yang punya segudang pengalaman mengolah tanah, bisa bercerita tanpa batas-batas siapa narasumber siapa pendengar. Bahwa kita semua adalah pembelajar, yang bisa mendengar dan punya hak juga untuk berbicara.

Sekali lagi, ini Maiyah Dusun Ambengan bukan sebatas acara untuk mengeluh dan meletupkan kegemrungsungan hidup. Mencari celah menyalahkan liyan. Tidak. Hidup hanya sekali, sangat berharga dan sayang jika hanya disibukkan untuk menabur bibit-bibit kebencian. Meski beberapa proteksi pertanian yang menjadi hak-hak para petani layak disuarakan. Maka pada edisi Februari 2016 ini, kita belajar banyak dari kasih sayang petani. Salah satunya, lewat pengalaman Pak Surono Danu.

Beliau adalah petani yang menemukan kesejatiannya sebagai ilmuwan alam. Ketika banyak yang terjebak harga bibit yang mahal. Pasca panen banyak petani yang tidak bisa tandur (menanam) lagi, terjebak pada kubangan ijon. Pak Surono mampu dengan tekun mengujicoba bibit, sampai kemudian berhasil menemukan varietas padi yang diberinama “Bibit Sertani.” Bukan sebatas bibit biasa, sebab, bisa meningkatkan hasil panen.

Padi hasil varietas Surono Danu ini, mampu menghasilkan 13 ton untuk 1 ha, dengan rasa yang pulen, aromatik dan tampilan yang baik dengan indek nilai 8. Disebut-sebut, hasil itu sudah melebihi kualitas padi hibrida. Sedangkan bibit Sertani 1 mampu menghasilkan 14 ton untuk 1 ha. “Benih ini tidak memiliki perawatan khusus bahkan tidak membutuhkan suplai air yang memadai karena benih ini mampu menyerap oksigen dengan sendirinya,” kata Pak Surono kepada detik.com di kantor Serikat Tani Nasional (Sertani), suatu ketika.

Pada edisi Februari 2016 ini, tema VALENTINE PETANI, Kasih Sayang Kedaulatan Pangan, dipilih sebagai kajian Maiyah Dusun Ambengan, bertempat di Rumah Hati – Dusun 4 Desa Margototo Metro Kibang Lampung Timur, Sabtu 13 Februari 2016 pukul 20.00 WIB.

Bersama Pak Surono dan para petani lain di Ambengan, kita menimba sumur kesejatian. Mengudar gagasan dan benar-benar mencari apa itu kedaulatan manusia, keluhuran kasih sayang serta menikmati suguhan-suguhan musik yang dimainkan dengan hati. Dinyanyikan dengan bahasa-bahasa cinta.

Sumber: Kenduri Cinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...